Selasa, 29 Desember 2020

Syarat-syarat Mencari Ilmu

Ilustrasi Mencari Ilmu


Setelah mengkaji tentang Keutamaan Mencari Ilmu, Adab-adab Mencari Ilmu di materi yang lalu, maka kali ini kita akan membahas syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi mereka para pencari ilmu.

Tersebut dalam Kitab Ta’lim Al-Muta’allim oleh Syaikh Az-Zarnuji, niat mencari ilmu khususnya ilmu agama setidaknya mencakup hal-hal berikut: Niat mengharapkan Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk menggapai kebahagiaan akhirat, membasmi kebodohan bagi dirinya dan kebodohan orang-orang disekitarnya, menghidupkan agama, dan untuk menjaga keberlangsungan (kekekalan) agama.

Selain niat, Pencari Ilmu juga harus memiliki 6 (enam) hal sebagai modal dalam mencari ilmu.

Mengenai hal ini, Syaikh Az-Zarnuji di dalam kitabnya tersebut menuliskan sebuah syair dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu., dua bait syair yang artinya:

“Ingatlah! Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memenuhi enam syarat. Saya akan beritahukan keseluruhannya secara rinci. Yaitu: Kecerdasan,  kemauan,  sabar,  biaya, bimbingan guru dan waktu yang lama.”

Kitab Ta'lim muta'alim


  • Kecerdasan

Ulama membagi kecerdasan menjadi dua yaitu: yang pertama, muhibatun minallah (kecerdasan yang diberikan oleh Allah). Contoh, Seseorang yang memiliki hafalan yang kuat.

Yang kedua adalah kecerdasan yang didapat dengan usaha (muktasab) misalnya dengan cara mencatat, mengulang materi yang diajarkan, berdiskusi dll.

  • Bersungguh-sungguh

Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan kesuksesan. Begitu pula dalam menuntut ilmu, kesungguhan adalah salah satu modal untuk menguasai ilmu yang sedang kita pelajari.

Pepatah mengatakan: Man Jada wa Jadda “Siapa bersungguh-sungguh pasti dapat”.

  • Kesabaran

Yang Ketiga Sabar dalam menuntut ilmu dibutuhkan kesabaran, sabar dalam belajar, sabar dalam diuji, sabar dalam segala hal yang kita alami dalam proses menuntut ilmu, sabar dalam menjalani hukuman sekalipun jika ada.

Hidup ini adalah ujian pasti Allah akan uji kesungguhan kita dalam menuntut ilmu, jikalau kita lolos dalam menjalaninya maka kita akan dinaikan tingkat kita dari yang sebelumnya.

Pepatah mengatakan, “Orang yang cerdas adalah orang yang tidak akan pernah berhenti belajar.

  • Biaya

Dalam menuntut ilmu tentu butuh biaya (bekal), tidak mungkin menuntut ilmu tanpa biaya (bekal). Contoh para imam, Imam Malik menjual salah satu kayu penopang atap rumahnya untuk menuntut ilmu.

Imam Ahmad melakukan perjalanan jauh ke berbagai negara untuk mencari ilmu. Beliau janji kepada Imam Syafi’i untuk bertemu di Mesir akan tetapi beliau tidak bisa ke Mesir karena tidak ada bekal. Seseorang untuk mendapat ilmu harus berkorban waktu, harta bahkan terkadang nyawa.

  • Bimbingan Guru

Salah satu hal yang paling penting dalam menuntut ilmu adalah bimbingan dari seorang guru. Terlebih belajar ilmu agama Islam, haruslah sesuai dengan bimbingan guru. Belajar agama Islam janganlah secara otodidak semata, karena akan menjadi bahaya jika salah memahami suatu teks ayat atau hadits.

Dikarenakan begitu pentingnya bimbingan guru, maka kita haruslah menghormati dan memuliakan guru. Hal ini semata-mata untuk mendapatkan ridha guru yang pada akhirnya akan mengantarkan kita kepada Allah.

  • Waktu Yang Lama

Dalam menuntut ilmu butuh waktu yang lama. Tidak mungkin didapatkan hanya dalam hitungan bulan saja.

Imam Al-Baihaqi berkata:”Ilmu tidak akan mungkin didapatkan kecuali dengakita meluangkan waktu”.

Imam Al-Qadhi ditanya: “Sampai kapan seseorang harus menuntut ilmu?” Beliau menjawab: ”Sampai ia meninggal dan ikut tertuang tempat tintanya ke liang kubur.”

Semoga kita mampu memahami dan mengaplikasikan syarat menuntut ilmu dari Imam Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘Anhu tersebut.

Jangan pernah patah semangat, wabil khusus untuk para pelajar Muslim, masih banyak yang harus kalian pelajari di dunia ini dengan waktu yang sangat terbatas. 

Bunyi di kitab Ta'lim Muta'alim


Adab-adab Mencari Ilmu

Ilustrasi

Di materi yang lalu, kita membahas tentang Keutamaan Mencari Ilmu. Nah, tentunya untuk mendapatkan ilmu harus memperhatikan adab-adabnya.

Salah satu adab yang diajarkan dalam Islam adalah adab menuntut ilmu. Ya, adab dalam menuntut ilmau sangat diperlukan. Bahkan Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada orang Quraisy,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Maka dari itu, sangat penting untuk mempelajari adab terlebih dahulu sebelum menuntut ilmu. Berikut ini adalah adab dalam menuntut ilmu yang perlu diketahui:

  1. Niat karena Allah

Hal pertama yang harus dipersiapkan sebelum menuntut ilmu adalah membenarkan niat. Niatkan semua ilmu yang akan kamu pelajari hanya karena Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Al Bayyinah ayat 5,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

2. Selalu berdoa

Dalam menuntut ilmu hendaknya kita selalu berdoa agar diberi kemudahan dalam menyerap ilmu dan mengamalkannya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

dan katakanlah :”Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. [Thâhâ/20:114]

Adapun doa yang biasa dipanjatkan oleh Rasul dalam menuntut ilmu adalah,

Ya Allah, berilah manfaat atas apa yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku hal-hal yang bermanfaat bagiku, dan tambahilah aku ilmu [HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah, dishahihkan al-Albâni]

3. Selalu bersungguh-sungguh

Ketika menuntut ilmu hendaknya kita bersungguh-sungguh dan selalu antusias untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Seolah-olah tidak pernah kenyang dengan ilmu yang didapatkan, hendaknya kita selalu berkeinginan untuk menambah ilmu kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang: yaitu (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)

4. Menjauhi maksiat

Untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah, maka jauhkanlah diri dari berbagai macam maksiat. Maksiat akan membuat otak menjadi sulit untuk berkonsentrasi sehingga ilmu sangat sulit dimengerti.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”

5. Selalu rendah hati

Banyak sekali orang berilmu yang justru menjadi sombong hanya karena merasa lebih baik dibandingkan orang lain. Jika ingin mendapatkan ilmu yang baik dan bermanfaat, maka tetaplah menjadi pribadi yang rendah hati.

Imam Mujahid mengatakan,

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ

“Dua orang yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq)

6. Memperhatikan penjelasan

Jika ingin mendapatkan ilmu dengan mudah, maka konsentrasilah ketika guru atau ustadz menjelaskan. Fokuslah untuk menyerap ilmu yang disampaikan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 17-18)

7. Diam menyimak

Salah satu adab dalam menuntut ilmu yang banyak ditinggalkan adalah diam ketika guru atau ustadz menjelaskan. Jangan berbicara atau bahkan mengobrol hal yang sama sekali tidak penting bahkan tidak berhubungan dengan pelajaran yang disampaikan. Sebagaimana telah Allah firmankan dalam Al A’raf ayat 204,

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

8. Menghafal

Setelah berhasil memahami ilmu yang disampaikan, maka hendaknya hafal lah ilmu tersebut agar lebih mudah diingat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR. At-Tirmidzi).

9. Mengamalkan

Akan percuma setiap ilmu yang didapatkan jika tidak diamalkan. Sudah seharusnya kita mengamalkanilmu yang kita dapatkan agar mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani)

10. Mendakwahkan

Tidak ada ilmu yang bermanfaat jika tidak dibagikan kepada orang lain. Maka sebarkanlah ilmu tersebut kepada mereka yang belum mengetahuinya. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahriim: 6).

Itulah 10 adab menuntut ilmu yang perlu diketahui. Semoga setiap ilmu yang kita dapatkan bermanfaat dan menjadi berkah bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Aamiin.

Keutamaan Mencari Ilmu

Ilustrasi


Kali ini kita akan membahas di semester genap ini yaitu tentang Kemuliaan Hidup dengan Berbekal Ilmu.

Seorang muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan keislamannya tanpa berusaha untuk memahami Islam dan mengamalkannya. Pernyataannya harus dibuktikan dengan melaksanakan konsekuensi dari Islam. Dan untuk melaksanakan konsekuensi-konsekuensi dari pengakuan bahwa kita sudah berIslam, itu membutuhkan ilmu.

Hukum Mencari Ilmu Itu : Wajib

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913)

Menuntut ilmu itu wajib bagi Muslim maupun Muslimah. Ketika sudah turun perintah Allah yang mewajibkan suatu hal, sebagai muslim yang harus kita lakukan adalah sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami taat. Sesuai dengan firman Allah Ta ‘ala:

 إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

  “Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul itu memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat”. Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.” (QS. An-Nuur [24]: 51).

Sebagaimana kita meluangkan waktu kita untuk shalat. Ketika waktu sudah menunjukkan waktu shalat pasti kita akan meluangkan waktu untuk shalat walaupun misal kita sedang bekerja dan pekerjaan kita masih banyak. Kita akan tetap meninggalkan aktivitas kita dan segera mengerjakan shalat. Maka begitupun sebaiknya yang harus kita lakukan dengan menuntut ilmu.

Ilmu Itu Apa Sih?

Ilmu adalah kunci segala kebaikan. Ilmu merupakan sarana untuk menunaikan apa yang Allah wajibkan pada kita. Tak sempurna keimanan dan tak sempurna pula amal kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu Allah disembah, dengannya hak Allah ditunaikan, dan dengan ilmu pula agama-Nya disebarkan.

Kebutuhan pada ilmu lebih besar dibandingkan kebutuhan pada makanan dan minuman, sebab kelestarian urusan agama dan dunia bergantung pada ilmu. Imam Ahmad mengatakan, “Manusia lebih memerlukan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu diperlukan di setiap waktu.”

Jika kita ingin menyandang kehormatan luhur, kemuliaan yang tak terkikis oleh perjalanan malam dan siang, tak lekang oleh pergantian masa dan tahun, kewibawaan tanpa kekuasaan, kekayaan tanpa harta, kedigdayaan tanpa senjata, kebangsawanan tanpa keluarga besar, para pendukung tanpa upah, pasukan tanpa gaji, maka kita mesti berilmu.

Namun, yang dimaksud dengan kata ilmu di sini adalah ilmu syar’i. Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan” (Fathul Baari, 1/92).

Dari penjelasan Ibnu Hajar rahimahullah di atas, jelaslah bawa ketika hanya disebutkan kata “ilmu” saja, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Oleh karena itu, merupakan sebuah kesalahan sebagian orang yang membawakan dalil-dalil tentang kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu dari Al Qur’an dan As-Sunnah, tetapi yang mereka maksud adalah untuk memotivasi belajar ilmu duniawi. Meskipun demikian, bukan berarti kita mengingkari manfaat belajar ilmu duniawi. Karena hukum mempelajari ilmu duniawi itu tergantung pada tujuannya. Apabila digunakan dalam kebaikan, maka baik. Dan apabila digunakan dalam keburukan, maka buruk. (Lihat Kitaabul ‘Ilmi, hal. 14).

Keutamaan-Keutamaan Ilmu Dan Pemilik Ilmu

Hal yang disayangkan ternyata beberapa majelis ilmu sudah tidak memiliki daya magnet yang bisa memikat umat Islam untuk duduk di sana, bersimpuh di hadapan Allah untuk meluangkan waktu mengkaji firman-firman Allah ‘Azza wa Jalla dan hadist nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita lebih senang menyia-nyiakan waktu bersama teman-teman, menghabiskan waktu di instagram, twitter, atau media sosial lain dibandingkan duduk di majelis ilmu. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Salah satunya adalah karena umat Islam belum mengetahui keutamaan dan keuntungan, mempelajari ilmu agama. Kita belum mengetahui untungnya duduk berjam-jam di majelis ilmu mengkaji ayat-ayat Allah. Kalau kita tidak mengetahuinya, kita tidak akan duduk di majelis ilmu. Karena fitrah manusia memang bertindak sesuai asas keuntungan. Faktanya, kalau kita tidak mengetahui keuntungan atau manfaat suatu hal maka kita tidak akan melakukan hal itu. Begitu juga dengan ibadah. Maka dari itu, semakin kita belajar dan mengetahui keuntungan-keuntungan salat, puasa, zakat, maka kita akan semakin semangat menjalaninya. Ini yang seharusnya kita sadari. Oleh karena itu, kita harus mengetahui keutamaan dan keuntungan menuntut ilmu. Terdapat banyak dalil dari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya terkait keutamaan ilmu dan pemilik ilmu. Di antaranya adalah:

  1. Ilmu Menyebabkan Dimudahkannya Jalan Menuju Surga

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). 

  1. Ilmu Adalah Warisan Para Nabi

 Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh hadits,

اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَامًا، وَلَكِنْ وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang cukup.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah; dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6297). 

  1. Ilmu Akan Kekal Dan Akan Bermanfaat Bagi Pemiliknya Walaupun Dia Telah Meninggal

 Disebutkan dalam hadits,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

 “Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya” (HR. Muslim). 

  1. Allah Tidak Memerintahkan Nabi-Nya Meminta Tambahan Apa Pun Selain Ilmu

 Allah berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

 “Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu“. (QS. Thaaha [20] : 114). Ini dalil tegas diwajibkannya menuntut ilmu. 

  1. Orang Yang Dipahamkan Agama Adalah Orang Yang Dikehendaki Kebaikan

Dari Mu’awiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim No. 1037).

Yang dimaksud faqih dalam hadits bukanlah hanya mengetahui hukum syar’i, tetapi lebih dari itu. Dikatakan faqih jika seseorang memahami tauhid dan pokok Islam, serta yang berkaitan dengan syari’at Allah. Demikian dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Kitabul ‘Ilmi (hal. 21). 

  1. Yang Paling Takut Pada Allah Adalah Orang Yang Berilmu

 Hal ini bisa direnungkan dalam ayat,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308).

Para ulama berkata,

من كان بالله اعرف كان لله اخوف

Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah”. 

  1. Orang Yang Berilmu Akan Allah Angkat Derajatnya

 Allah Ta’ala berfirman:

 يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ..

“…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).

Allah Subhanahu wa Ta ‘ala berfirman,

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

 “Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al-Mulk : 10).

Allah telah memberikan banyak kenikmatan, jika tidak kita gunakan untuk mempelajari firman-firmannya maka kita akan menjadi salah satu orang yang menyatakan dan Allah abadikan dalam surat Al-Mulk ayat 10 di atas. Semoga Allah memberikah taufiq dan hidayah-Nya kepada kita untuk bisa menuntut ilmu dan mengamalkannya sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Aamiin.

Penulis: Fatharani Fariha

Referensi

  1. Tips Belajar Agama Di Waktu Sibuk, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dan Dr. Ubaid Bin Salim Al-Amri, Penerjemah, Arif Munandar, Lc, Kiswah Media, Solo.
  2. Menebar Ilmu Menuai Pahala, Syaikh Abdul Aziz Bin Abdillah Bin Baz, Fawwaz Ahmad Zamarli, Media Hidayah, Yogyakarta.
  3. Setiap Muslim Wajib Mempelajari Agama, Muhammad Saifudin Hakim, 2013, https://muslim.or.id/18810-setiap-muslim-wajib-mempelajari-agama.html

Jumat, 06 November 2020

Sejarah Asal Mula Khilafah Turki Utsmani

SEBELAH Utara Khurasan terdapat sebuah suku besar yang telah memeluk agama Islam, bernama Turkistan. Mereka tinggal di sana dengan mendirikan lebih kurang 70.000 tenda, dengan jumlah penduduk setengah juta jiwa dan adapun suku Kayi merupakan suku kecil bagian dari perkumpulan besar tersebut. Karena ingin menyelamatkan diri dan anggota keluarga dari serangan Mongol, di antara suku-suku tersebut ada yang pergi ke Anatolia, ke sebelah Barat Iran, dan Utara Iraq. (Muhammad Harb, al-Utsmāniyyūn fi al-Tārīkh wa al-Haḍārah, (Kairo : al-Markaz al-Maṣry li al-Dirōsat al-Utsmāniyyah wa Buhūts al-Ālam al-Turky, 1994. Hlm. 9).

Ketika Bangsa Mongol menyerang wilayah Islam pada tahun 617 H / 1220 M, pemimpin Suku Kayi yang bernama Sulayman Sah mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol dengan hijrah ke arah Anatolia, sebelum sampai ketujuannya, mereka terlebih dahulu tinggal di wilayah Akhlat. Akhlat adalah suatu kota di sebelah timur Turki sekarang dan sekarang menjadi Armenia. (Ali bin Muhammad al-Shalabi, al-Daulah al-‘Utsmāniyyah ‘Awāmil al-Nuhūḍ Wa Asbāb al-Suqūt,(al-Maktabah al-Syāmilah, Juz I. Hlm.41).

Setelah ancaman Mongol mereda, Sulayman Sah ingin melanjutkan perjalan ke Anatolia, pada tahun 1230 M, namun ia hanyut dalam usaha menyebrangi sebuah sungai yang tiba-tiba pasang karena banjir besar. (Muhammad Farid, Tāreikh al-Daulah al-‘Illiyyah al-‘Utsmāniyyah, Beirut: Dār al-Nafā’its, 1981, Hal. 115). Hal tersebutlah yang menyebabkan pemimpin suku Kayi meninggal dunia pada tahun 628 H / 1230 M.

Adapun akibat meninggalnya Sulayman Sah, Suku Kayi akhirnya terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama ingin pulang ke negri asalnya, sedangkan kelompok kedua meneruskan perantauannya ke wilayah Asia kecil yang tidak sampai jumlahnya 400 keluarga dan mereka dipimpin oleh Ertugul, Putra Sulayman. (Ali bin Muhammad al-Shalabi, al-Daulah al-‘Utsmāniyyah ‘Awāmil al-Nuhūḍ Wa Asbāb al-Suqūt.Juz I. Hlm. 41).




Kemudian, ketika Ertugul sampai ke Anatolia bersama anggota sukunya, ia dan kelompoknya bergabung dan berbai’at kepada Sultan ‘Ala al-Din II dari saljuk Rum yang pemerintahannya berpusat di Konya, Anatolia, Asia Kecil. Pada waktu itu bangsa Saljuk sedang berperang dengan Romawi, melihat bahayanya bangsa Romawi yang mempunyai kekuasaan besar di Romawi Timur (Byzantium). Maka, Ertugul dan kelompoknya yang tergabung di bawah kekuasaan Saljuk ikut serta dalam perperangan, dengan adanya tambahan pasukan baru dari saudara sebangsanya, pasukam Saljuk menang atas Romawi. (Ali bin Muhammad al-Shalabi, al-Daulah al-‘Utsmāniyyah ‘Awāmil al-Nuhūḍ Wa Asbāb al-Suqūt, Juz I. Hlm. 41).

Kemenangan tersebut membuat Sultan bergembira. Adapun kegembiraan tersebut dibuktikan dengan memberi Erthugul hadiah berupa wilayah yang berbatasan dengan Byzantium, setiap kemenangan, Sultan selalu memberikan kepada Turki Utsmani tanah dan juga diberikan harta dengan jumlah yang besar, dan wilayahnya diberi gelar dengan muqoddimat al-Sulṭan, karena selalu berada di barisan terdepan setiap pertempuran. (Muhammad Farid, Tāreikh al-Daulah al-‘Illiyyah al-‘Utsmāniyyah. Hlm.115). Kepercayaan Sultan kepada kelompok Suku Kayi terus berlangsung sampai kepada anaknya Ertugul.

Kemudian Erthugul meninggal dunia pada tahun 699 H / 1299 M. Maka, Sultan ‘Ala al-Din memilih Utsman untuk menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pemimpin suku bangsa Turki, yang pada saat itu masih berusia 23 tahun. (Muhammad Farid, Tāreikh al-Daulah al-‘Illiyyah al-‘Utsmāniyyah. Hlm.116).

Kecintaan dan kepercayaan Sultan nampak jelas dengan banyak memberi hak keistimewaan  kepada Utsman dan  mengangkatnya menjadi gubernur dengan gelar Bey di belakang namanya. Utsman juga dibolehkan mencetak uang sendiri dan dibolehkan juga dido’akan khusus oleh khatib dalam khutbah Jumat.  (Muhammad Farid, Tāreikh al-Daulah al-‘Illiyyah al-‘Utsmāniyyah. Hlm.118).

Begitulah kepercayaan Sultan pada Utsman yang nanti akan mendirikan Kesultanan Utsmani.  Namun, pada tahun 656 H / 1258 M, Bangsa Tatar masih menyerang Kesultanan Abbasiyah dan saat itu Khalifah al-Mustasim terbunuh di Baghdad. Akibatnya Kesultanan Abbasiyah yang berdiri dan melayani lebih dari lima abad sebagai pilar peradaban Islam hancur.

Saat Kesultanan Abbasiyah tumbang, pada abad itu Islam tidak memiliki persatuan dan daulah yang besar untuk melindungi wilayah-wilayahnya. (Muhammad Farid, Tāreikh al-Daulah al-‘Illiyyah al-‘Utsmāniyyah. Hlm.114).


Kemudian pada tahun 1300 M / 699 H, dalam sejarah Islam Pada abad ketujuh tersebut, Tatar selalu merongrong wilayah kerajaan Islam dan wilayah Asia Kecil, hingga hingga sampai pada wilayah Kesultanan Saljuk, yang mana dalam serangan tersebut mengakibatkan kematian ‘Ala al-Din sebagai sultan terakhir dari Saljuk, karena keadaan tersebut Utsman memerdekan diri dan bertahan atas serangan bangsa Mongol. (Muhammad Farid, Tāreikh al-Daulah al-‘Illiyyah al-‘Utsmāniyyah. Hlm.118).

Bekas wilayah Saljuk dijadikan basis kekuasaannya dan para penguasa saljuk yang selamat dari pembantain Mongol mengakatnya sebagai pemimpin. kemudian mengusahakan perluasan kerajaannya ke wilayah Azmid dan Aznik. Namun, mereka tidak cukup kuat untuk perluasan tersebut. Akhirnya kembali ke kota dan memulai untuk mengatur strategi. (Muhammad Farid, Tāreikh al-Daulah al-‘Illiyyah al-‘Utsmāniyyah, hlm.118).

Jadi, seperti itulah asal-muasal Utsman berdirinya Kesultanan Utsmani pada tahun 700 H / 1300 M. Kemudian namanya dinisbatkan sebagai nama suatu Kesultanan yang besar dan poros kekuatan umat Islam pada saat itu. (Muhammad Harb, al-Utsmāniyyūn fi al-Tārīkh wa al-Haḍārah, (Kairo : al-Markaz al-Maṣry li al-Dirōsat al-Utsmāniyyah wa Buhūts al-Ālam al-Turky, 1994), 10. lihat juga : Muhammad Farid, Tārīkh al-Daulah al-‘Illiyyah al-‘Utsmāniyyah. Hlm.116).

Ia menjadikan syariat sebagai landasan hukum Kesultanan Utsmani. (Ali bin Muhammad al-Shalabi, al-Daulah al-‘Utsmāniyyah ‘Awāmil al-Nuhūḍ Wa Asbāb al-Suqūt Juz I. Hlm. 57). Artinya hubungan Kesultanan Utsmani dengan Islam sangat erat sekali. Kesultanan Utsmani sangat menjunjung tinggi Syari’ah Islam dan Ulama. (Muhammad Harb, al-Utsmāniyyūn fi al-Tārīkh wa al-Haḍārah. Hlm. 12).

Oleh karena itu Utsman selalu bermusyawarah dengan ulama mengenai masalah syarī’ah dan dan perkara-perkara sulṭah. (Ali bin Muhammad al-Shalabi, al-Daulah al-‘Utsmāniyyah ‘Awāmil al-Nuhūḍ Wa Asbāb al-Suqūt. Juz I. Hlm. 48-49).

Bukan hanya sekedar itu, Utsman juga sangat dekat dengan ulama, bukti kedekatan tersebut, seorang ulama Sufi yang bernama Syeikh Udabali menikahkan putrinya dengan Utsman al-Ghazi. (Ahmad Bin Musthafa Bin Kholil Abu Khoir, al- Syaqō’iq al-Nu’māniyyah Fi ‘Ulamā al-Daulah al-‘Utsmāniyyah, (Beirut : Dār al-Kutub al-‘Arabi, tt). Hlm. 6-7).

Adapun, pandangan Utsman terhadap kepemimpinan tergambar di dalam wasiat-wasiatnya. Adapun beberapa wasiat Utsman yang paling urgen tehadap kemajuan adalah.

Pertama, ketahuilah wahai anak ku, sesungguhnya menyebarkan agama Islam, menunjuki jalan hidayah Islam kepada manusia, dan menjaga keperluan beserta harta-harta kaum Muslim merupakan suatu amanah dipundakmu dan Allah akan memintak pertanggung jawaban atas semua itu. (Ali bin Muhammad al- Shalabi, al-Daulah al-‘Utsmāniyyah ‘Awāmil al-Nuhūḍ Wa Asbāb al-Suqūt. Juz I. Hlm. 48-49).

Kedua, wahai anak ku, jangan sekali jangan engkau disibukkan dengan sesuatu yang tidak diperintah oleh Allah swt dan apabila engkau mendapatkan suatu hukum yang membingungkan, maka hendaklah bermusyawarah dengan para ulama dan janganlah engkau menjauhi mereka. (Muhammad Harb, al-Utsmāniyyūn fi al-Tārīkh wa al-Haḍārah. Hlm. 12).

Ketiga, ketahuilah wahai anak ku, sesungguhnya jalan kita di dunia ini satu yaitu jalan menuju Allah dan tujuan kita menyebarkan agama Allah, kita bukanlah orang yang mencari kekuasaan dan dunia. Lihat: Ali bin Muhammad al- Shalabi, al-Daulah al-‘Utsmāniyyah ‘Awāmil al-Nuhūḍ Wa Asbāb al-Suqūt. Juz I. Hlm. 48-49




Keempat, wasiat ku, kepada anak-anak keturunan ku dan juga sahabat-sahabat ku, tegakkanlah agama Islam dengan selalu berjihad fi sabīlillah. Pegang eratlah bendera Islam dengan setinggi-tingginya dengan kesempurnaan jihad. Selalulah berkhidmah kepada Islam, karena Allah swt memperkerjakan hamba yang lemah seperti saya ini untuk fath. Berangkatlah dengan kalimat tauhid keseluruh penjuru dunia dengan kesungguhan kalian dalam jihad fi sabīlillah. Barangsiapa yang menyeleweng dari keturunan-keturunan ku dari kebenaran dan keadilan, maka haram baginya pertolongan Rasulullah pada yaum al-mahsyar. (Ali bin Muhammad al- Shalabi, al-Daulah al-‘Utsmāniyyah ‘Awāmil al-Nuhūḍ Wa Asbāb al-Suqūtjuz I. hlm. 48-49).

Kelima, wahai anak ku, kita bukanlah orang yang berperang demi menuruti hawa nafsu kekuasaan, akan tetapi kita hidup demi Islam dan karena Islam kita mati. (Muhammad Harb, al-Utsmāniyyūn fi al-Tārīkh wa al-Haḍārah hlm. 12).

Kuat dan majunya Kesultanan Utsmani tidak lepas dari wasiat pendirinya yang dijadikan oleh para penerusnya sebagai tonggak dan dasar pemerintahan. (Ali bin Muhammad al- Shalabi, al-Daulah al-‘Utsmāniyyah ‘Awāmil al-Nuhūḍ Wa Asbāb al-Suqūt. Juz  I. Hlm. 50).

Setelah Utsman meninggal pada tahun 727 H, keturunan-keturunannya melanjutkan jihad ke Bizantium dan Kesulthanan Utsmani meraih banyak kemenangan sehingga berhasil membuka (fath) wilayah Eropa pada saat itu. Kemudian puncak kemenangan dan keberhasilan itu, ketika dibukanya (fath) kota Konstantinopel (857H) dibawah komando seorang pemuda yang berumur 22 tahun yaitu Muhammad al-Fatih dan Ia merubah nama kota Konstantinopel menjadi Islam bul (kemunculan Islam).  (Isma’il ya’ngi dan Mahmud Syakir, Tārīkh al-‘Ālam al-Islāmy al-Hadits wa al-Mu’aṣir, Riyaḍ, Dār al-Marikh, 1404 H).

Peristiwa ini menjadi bukti mukjizat Nabi Muhammad ﷺ yang sudah dikabarkan lewat hadits istibāqiyyah. (Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Kairo : Mu’assasah Cordoba, tt, Juz, 4, lihat juga: Muhammad bin Abdullah al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala al-ṣohihainSulayman bin Muhammad al-Thabrani, dalam Al-Mu’jam al-Kabīr).

Pembukaan Konstantinofel bukanlah kemenangan besar, karena kemenangan dalam fath itu ada dua. Pertama, kemenangan atas wilayah, yang menjadi simbol bagi kemenangan yang lainnya. Kedua, kemenangan atas akidah, artinya masuk Islamnya masyarakat-masyarakat yang ditaklukkan wilayahnya. (Ali bin Muhammad al- Shalabi, al-Daulah al-‘Utsmāniyyah ‘Awāmil al-Nuhūḍ Wa Asbāb al –Suqūt. Juz  I. Hlm. 48).

Hal ini terbukti dari sikap Muhammad al-Fatih ketika memasuki Konstantinopel, bersikap dengan tawadhu’ dan tidak sombong atas pencapainya. Muhammad al-Fatih langsung melaksanakan sholat, tanda syukurnya atas nikmat yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Kemudian bersegera ke tempat syahidnya seorang sahabat Nabi Abu Ayyub al-Anshori, yang syahid ketika pengepungan Konstantinopel pada masa Mu’awiyah bin Abi Sofian (52 H), kemudian al-Fatih mendirikan sebuah Masjid di tempat itu. (Ali bin Muhammad al- Shalabi, al-Daulah al-‘Utsmāniyyah ‘Awāmil al-Nuhūḍ Wa Asbāb al –Suqūt. Juz  I. Hlm. 48).

Sejak runtuhnya Khilafah Utsmani, pemikiran politik Islam nyaris selalu menjadi anak bawang, semoga tulisan singkat ini mampu memberikan motivasi kepada kita semua.*


Muhammad Karim, Tim Asatidz Tafaqquh Study Club, Pekanbaru


Minggu, 01 November 2020

Implementasi Iman kepada Malaikat


Seperti yang sudah diketahui dalam agama Islam, sebagai muslim wajib meyakini rukun iman yang berjumlah enam. Adapun rukukn iman yang kedua yakni percaya kepada malaikat-malaikat Allah. 

Keimanan terhadap malaikat mesti Mama ajarkan kepada anak meskipun sosok malaikat tak bisa dilihat secara kasat mata. Dalam agama Islam, malaikat diciptakan dari cahaya dan semua muslim wajib beriman kepadanya.

Malaikat juga merupakan mahluk ciptaan Allah SWT yang selalu taat terhadap perintah-Nya. Sebenarnya ada ribuan malaikat, namun hanya ada 10 saja nama mailakat dan tugasnya yang wajib diketahui.


Siapa saja nama malaikat yang wajib dipercaya dalam agama Islam dan apa saja tugasnya?

  1. Malaikat Jibril, tugasnya menyampaikan wahyu kepada rasul-rasul Allah
  2. Malaikat Mikail, tugasnya memberikan rizki kepada makhluk
  3. Malaikat Israfil, tugasnya Meniup sangkakala pada hari kiamat
  4. Malaikat Izrail, tugasnya mencabut nyawa
  5. Malaikat Munkar, tugasnya menanyai orang di dalam kubur yang berbuat keburukan
  6. Malaikat Nakir, tugasnya menanyai orang di dalam kubur yang berbuat kebaikan7. Malaikat Raqib, tugasnya mencatat amal baik manusia selama hidup
  7. Malaikat Raqib, tugasnya mencatat amal baik manusia selama hidup
  8. Malaikat Atid, tugasnya mencatat amal buruk manusia semasa hidup
  9. Malaikat Malik, tugasnya menjaga pintu neraka
  10. Malaikat Ridwan, tugasnya menjaga pintu surga
Surga sendiri digambarkan sebagai tempat untuk mereka orang Islam yang beriman kepada Allah dan banyak berbuat baik selama hidup di dunia. Surga sendiri dalam Al-Quran adalah tempat yang indah dan hadiah bagi orang-orang beriman selama di dunia. Hal ini sesuai dengan surat Al-Baqarah ayat 25, yang artinya:

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan ‘inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.”



Tanda-tanda Beriman kepada Malaikat

Tanda-tanda beriman kepada Malaikat dapat dilihat dari beberapa aspek seperti sikap dan perilaku sehari-hari, diantaranya seperti :

  1. Meyakini dengan sepenuh hati bahwa malaikat merupakan salah satu makhluk gaib yang lebih dahulu diciptakan oleh Allah daripada manusia.
  2. Meyakini di dalam hati bahwa malaikat merupakan makhluk yang memiliki sifat seperti hidup pada alam gaib, maksum, tidak berjenis kelamin, tidak makan dan minum dan selalu senantiasa bertasbih kepada Allah SWT.
  3. Meyakini bahwa Allah telah memberikan tugas yang berbeda untuk setiap malaikat.
  4. Meyakini bahwa segala amal perbuatan yang kita lakukan sehari-hari tidak akan lepas dari pengawasan Allah, maka hendaknya kita harus selalu berhati-hati dalam bertindak atau melakukan sesuatu.
  5. Melakukan perbuatan yang dapat mencerminkan beriman kepada malaikat yakni dengan melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Hikmah Beriman kepada Malaikat

  • Semakin meyakini tentang kebesaran Allah SWT.
  • Bersyukur kepada Allah SWT, karena telah menciptakan malaikat untuk membantu segala kehidupan dan kepentingan manusia.
  • Menumbuhkembangkan sikap cinta kepada amal soleh.
  • Merasa takut ketika melakukan perbuatan maksiat karena meyakini segala perbuatan tersebut tidak akan terlepas dari pengawasan Malaikat Atid.
  • Cinta kepada Malaikat karena kedekatan ibadahnya kepada Allah, dan karena mereka selalu membantu dan selalu mendoakan kita.
  • Selalu melakukan perbuatan yang baik.
  • Bertaqwa dan beriman kepada Allah SWT serta berlomba-lomba dalam kebaikan.
  • Meningkatkan keimanan untuk mengikuti sifat dan perbuatan Malaikat.
  • Selalu berfikir dan berhati-hati setiap melakukan suatu perbuatan, karena perbuatan yang baik maupun yang buruk akan selalu dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.


Contoh-contoh Perilaku Iman kepada Malaikat

  1. Senantiasa beramal soleh dan selalu taat kepada Allah.
  2. Bekerja keras dan yakin bahwa akan mendapatkan perlindungan dari Allah.
  3. Memantapkan tauhid dan menjauhi tahayul.
  4. Menjauhi dan mencegah dari perbuatan yang dilarang oleh Allah.
  5. Jujur dan meyakini bahwa kelak akan dipertanggungjawabkan semua perbuatan yang telah dilakukan di dunia, di hadapan Allah kelak.